Saham, untuk hedging inflasi? Not so fast!

Beberapa hari terakhir, isu yang marak diberitakan di media massa adalah tentang para buruh yang menuntut kenaikan upah minimum. Tuntutan mereka tidak tanggung-tanggung, mereka meminta kenaikan hingga hampir 40%. Tentu saja tuntutan mereka absurb. Tidak mungkin dikabulkan, karena akan berpengaruh pada survival SME di Indonesia. Para buruh akan mundur, dan kembali ke pekerjaan mereka, after all, this is just another demonstration.

Seandainya hal itu benar. Saya sendiri hampir tidak percaya dengan berita yang saya baca beberapa hari setelahnya. Ternyata, di tangan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi, UMP malah lolos menjadi 2,2 Jt

. Saya sendiri tidak akan membahas apakah ini keputusan yang benar atau salah, namun saya akan bahas, bagaimana implikasi kejadian ini terhadap atmosfir investasi ke depan?

UMP naik, akan mengakibatkan beberapa hal dalam jangka waktu pendek:

  • Labor cost perusahaan meningkat, income dari perusahaan akan tertekan. Perusahaan bisa menaikan harga jual mereka, namun harga jual mereka tidak akan bisa naik secepat cost mereka, akan ada lag time antara kenaikan production cost dengan kenaikan selling price.
  • Kesejahteraan buruh meningkat dikarenakan upah yang mereka terima mengakibatkan daya beli mereka yang semakin kuat.
  • Apabila pemerintah gagal mendongkrak ekonomi, tingkat penggangguran akan semakin tinggi. Hal ini dikarenakan perusahaan berusaha hidup dengan labor cost yang tinggi, sehingga mereka akan memotong tenaga kerja dan berusaha meningkatkan produktivitas buruh yang tetap.

Banyak orang yang mengatakan bahwa saham adalah cara yang paling tepat untuk melindungi portofolio anda dari inflasi, karena secara inheren, saham sudah terhedge. Jadi ketika inflasi menekan ekonomi, harga saham akan naik sesuai dengan inflasi, karena pendapatan perusahaan akan mengalami adjustment. Namun, saya rasa ini adalah satu mitos yang tidak selalu benar.

Pada saat inflasi yang disebabkan kenaikan upah buruh, maka seperti yang saya katakan sebelumnya, hal itu akan menekan pendapatan perusahaan. Meskipun secara jangka panjang, perusahaan bisa mengatur harga jual barangnya, namun secara jangka pendek, saham perusahaan akan mengalami gejolak. Dengan pendapatan yang makin berkurang, maka secara normal harga saham akan jatuh.

Jadi bagaimana kita harus menyikapi situasi ini? Beberapa point:

  • Secara jangka panjang, saham tetap bisa menjadi obat dari inflasi, namun sebaiknya kita tunggu hingga inflasi telah merekat ke dalam ekonomi. Dengan kata lain, kita beli saham ketika efek inflasi sedang pada puncaknya (atau sekitar). Saya sendiri kira sekitar kuartal-2 tahun depan merupakan waktu yang baik.
  • Kita harus menganalisa saham perusahaan. Perusahaan di mana faktor tenaga kerja merupakan komponen terbesar dalam costing mereka, akan mengalami penurunan pendapatan paling drastis.

Beberapa jenis aset yang bisa dipertimbangkan:

1. Saham pilihan di mana faktor tenaga kerja tidak begitu berpengaruh. Coba lirik saham sektor finansial dan telekomunikasi. Sektor manufaktur, logistik dan jasa (low-value) sebaiknya dihindari.

2. Emas bisa menahan efek inflasi ke dalam portofolio anda. Tapi mengingat natur emas yang tidak bertambah secara nilai, saya kira alokasi 10-20% sudah cukup.

3. Properti adalah favorit penulis untuk menahan pengaruh inflasi. Terutama properti yang baru diluncurkan, karena harga properti sudah dikunci, kemudian biaya pembangunan, yang akan naik karena inflasi, akan ditanggung oleh developer. Harga properti tersebut akan naik secara inflasi, ditambah lagi dengan yield dan capital appreciation. Namun untuk sektor ini, investor akan membutuhkan skill dan knowledge untuk menemukan asset yang bagus.