Pada hari ini, BI memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5.75%. Keputusan ini sepertinya menandakan bahwa BI tidak mau mengambil resiko untuk merubah apa-apa.

Secara sederhana, tanpa berbuat apa-apa, situasi Rupiah akan melemah, dikarenakan defisit ekspor yang masih melanda ekonomi Indonesia. Logikanya, bila nilai impor jauh lebih tinggi, maka lebih banyak perusahaan yang memerlukan dolar untuk melakukan kegiatan impor, sehingga mereka perlu menjual rupiah mereka. Bila deficit ini terus berlanjut, maka rupiah akan semakin lemah, dan perusahaan harus membayar lebih mahal lagi untuk membiayai impor mereka.

Saya kira, bila BI menaikkan suku bunga, permintaan akan rupiah akan terdorong, sehingga mendorong penguatan rupiah. Hal ini tentu saja akan berdampak pada ekspor, membuat pemasukan mereka semakin sedikit. Pengimpor tentu saja senang, karena biaya mereka semakin sedikit.

Pada saat ini BI sepertinya tidak memiliki motivasi yang kuat untuk menaikkan bunganya, dan membiarkan ekonomi Indonesia untuk stabil dengan sendirinya. Pasar saham juga tidak begitu bertumbuh tahun ini, dikarenakan perlambatan secara umum. Perlu diperhatikan juga, selama tahun 2012, lebih dari USD 1.6 Milyar telah masuk ke Indonesia, namun 1 bulan terakhir, sekitar USD 150 juta keluar dari Indonesia. Mungkin hal ini bisa menjelaskan IHSG yang sedikit mandek.