Tahun lalu merupakan tahun yang cukup membawa berkah bagi kebanyakan investor. Index pasar seperti IHSG, S&P, Dow Jones bahkan Straits Times Index yang nancap gas pada beberapa minggu terakhir, memberikan return positif. Pertanyaannya, bagaimana situasi pada tahun 2013? Apakah pasar Indonesia akan memberikan return lebih dari 50% seperti 3 tahun lalu, atau mandek seperti 2 tahun lalu? Apakah faktor-faktor yang harus diperhatikan?

Ada beberapa hal menjadi bahan sorotan oleh para investor di tahun ini. Hal-hal di bawah akan menpengaruhi dengan kondisi pasar saham Indonesia.

China

Sebagai salah satu partner trading terbesar Indonesia, China memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perekonomian Indonesia. Di tahun 2011, Indonesia mengekspor sekitar USD 22.9b, dan mengimpor USD 26b. Tentu saja ini merupakan defisit yang tidak kecil, dan akan mengakibatkan rupiah semakin melemah.

Tahun 2012, China mengalami perlambatan ekonomi, hal ini membuat ekspor Indonesia semakin melemah, terutama dua produk andalan Indonesia, sawit dan batubara. Bila perekonomian China bangkit kembali, maka diharapkan roda ekspor Indonesia bisa mulai berjalan. Minggu lalu, China mengumumkan data bahwa ekspor mereka naik 14.1%, dan tentu saja hal ini menggembirakan eksportir Indonesia. Namun, data dari China tidak selalu akurat, dan beberapa bankir menyuarakan pendapat skeptis mereka

.

Inflasi

Jika data China menjadi sumber kekuatiran para eksportir, maka inflasi adalah salah satu dalam daftar kekuatiran usaha lokal. Trade deficit yang tidak kunjung berakhir, tidak memberikan satu gambaran rupiah akan bertengger. Selain itu, BI sendiri tidak memberikan gambaran seberapa besar komitmen mereka dalam mempertahankan nilai rupiah. Pertemuan BI terakhir di 10 Januari 2013, BI mempertahankan suku bunganya di 5.75%, dan pandangan mereka, tekanan inflasi belum cukup signifikan. Waktu akan membuktikan apakah mereka benar.

Di saat yang sama, tekanan kenaikan UMP yang menghantui para pengusaha sejak beberapa bulan lalu, menambah tekanan inflasi. Benar bahwa kenaikan UMP akan mendongkrak konsumsi, namun terdengar di pasar bahwa pada saat yang sama, momen ini akan digunakan untuk membuang subsidi BBM dan menaikkan tarif listrik. Pada akhirnya, yang menjadi korban terbesar adalah bisnis (terutama bisnis yang padat karya).

Kondisi ekonomi yang membaik secara global juga merupakan salah satu faktor mendukung rupiah menguat. Ekonomi domestik yang kuat, ditambah dengan insentif dari BI (bisa berupa kenaikan suku bunga), infrastruktur dan kepastian hukum, semuanya akan mendukung penguatan rupiah.

Politik

Pemilu 2014 akan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi situasi pasar di Indonesia. Seperti biasanya, pergantian rezim akan memunculkan ketidak pastian. Dua periode di bawah SBY, perekonomian Indonesia bangkit di tengah-tengah banyak insiden negatif. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah jajaran pemerintahan yang baru dapat mempertahankan performa 10 tahun terakhir?

Batu Bara dan Sawit

Kedua komoditas ini akan tetap menjadi andalan ekspor Indonesia. Beberapa tahun terakhir kedua produk ini menjadi mesin penggerak ekspor dan efeknya dapat dirasakan ke perekonomian Indonesia. Investasi pun terus mengalir. Tetapi seperti yang sudah banyak diketahui, situasi harga kedua komoditas tidaklah begitu bagus.

Di sektor kelapa sawit, terjadi oversupply, sehingga membuat harga CPO agak tertekan. Menurut saya, situasi ini akan mengalami normalisasi, dan harga akan pulih ketika up-cycle kembali. Untuk jangka waktu 3-6 bulan ke depan, sepertinya investor harus hati-hati dalam memegang saham sawit. Menurut salah satu analis, harga sawit masih bisa turun. Belum lagi ditambah permasalahan seperti inventori yang masih menggunung dan langkah China dan India untuk memperlambat impor sawit mereka.

Bagaimana dengan sektor batubara? Seperti yang sudah saya bahas di artikel sebelumnya

, harga batubara turun bukan disebabkan oleh price-cycle, tapi lebih ke kejadian makro. Ketergantungan Amerikat terhadap shale gas yang semakin besar, akan mendorong produsen batubara untuk mengirimkan komoditas mereka ke tempat lain, kemungkinan besar Eropa dan China.