Dalam posting saya sebelumnya, saya mengatakan bahwa salah satu faktor penting dalam menentukan arah pergerakan IHSG. Selain itu, dari sektor domestik, inflasi bulan lalu (setelah hiruk pikuk kenaikan UMR) akan memberikan gambaran tentang prospek laporan keuangan emiten di 2013. Selain itu, sikap BI terhadap rupiah juga akan mempengaruhi kondisi pasar.

Dari China, angka yang baru dirilis kemarin, meninggalkan satu pertanyaan besar apakah China bisa melanjutkan pemulihannya untuk tahun 2013. Setelah angka sebelumnya yang memberikan secercah harapan untuk para eksportir Indonesia, ternyata angka terbaru agak mengecewakan

. Emiten-emiten yang bergantung terhadap China untuk pemasukannya, sebaiknya dikurangi eksposurenya dalam portfolio anda. Tentu saja, saham komoditas, terutama batubara. Sektor lainnya seperti sawit (walaupun tidak seberat batubara).

Hari ini, BI akan memberikan angka inflasi untuk bulan lalu. Sejak awal tahun 2012, trend angka inflasi adalah naik, sehingga ini akan berpengaruh terhadap bottom line perusahaan. Saya kira, kenaikan lebih dari 0.4%, akan memberatkan pasar, dan hal ini bukan tidak mungkin terjadi, mengingat terakhir kali inflasi naik sekitar angka tersebut, yakni sekitar Maret 2012, pasar Indonesia mengalami tekanan. Kita lihat saja berapa angka yang akan diumumkan BI. Anda dapat mengikutinya di sini.

Data perdagangan Indonesia belum keluar, namun telah ada indikasi bahwa deficit perdagangan Indonesia akan mencapai sekitar $2b, angka terbesar dalam sejarah Indonesia. Hal ini akan berpengaruh terhadap rupiah. Tentu saja tekanan ini akan membuat rupiah semakin melemah. Pada saat yang sama, BI tidak memberikan indikasi terhadap sikap mereka, sepertinya mereka cukup toleran untuk membiarkan rupiah melemah. Dengan situasi seperti ini, sepertinya prospek rupiah untuk melemah hingga 10,000 di tahun 2013 adalah sesuatu yang sangat mungkin.